Total Tayangan Laman

Design by Ferry Muchlis Ariefuzzaman

Design by Ferry Muchlis Ariefuzzaman
Media Team for Atut's Success to be a Governor

Jumat, 02 Oktober 2009

Ijasah SE Palsu yang Dimiliki Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah





Menarik juga tentang dugaan adanya ijasah palsu yang dimiliki Gubernur Banten terpilih Ratu Atut Chosiyah, yang dilaporkan oleh mantan kader PKS yang juga calon gubernur Banten rival Atut, Marissa Haque.

Dua orang perempuan, sama-sama cantik, sama-sama kampiun di dunia politik, setelah berseteru dalam memperebutkan Banten-1, dilanjutkan dengan berseteru tentang ijasah 'Bu Gubernur'.Atut dikatakan telah membuat ijasah instan untuk meluluskan pencalonannya sebagai gubernur maupun sebagai PNS.

Marissa mampu membuktikan kalau Ratu Atut hanya kuliah 8 bulan untuk mendapatkan ijazah Sarjana di Universitas Borobudur Jakarta, September 2003 sampai Mei 2004. "Artinya dia itu dapat gelar sarjana hanya dalam 2 semester," jelas Marissa. Ratu Atut dianggap telah melakukan pembohongan publik.Tetapi lagi-lagi, polisi tidak mampu (atau mungkin tidak mau) membuktikan akan kebenaran tuduhan tersebut, meskipun Marissa memberikan bukti kopian ijasah instan tersebut. Akhir ceritanya, polda Metro Jaya mengeluarkan surat SP3 perintah penghentian kasus ini dikarenakan tidak terebukti adanya unsur pemalsuan ijasah. Dan bahkan

Marissa dilaporkan balik oleh Atut karena telah mencemarkan nama baik.Terlepas dari benar tidaknya Ratu Atut mendapatkan ijasah itu secara instan, tetapi kasus ijasah instan, atau aspal, atau palsu ini banyak terjadi di kalangan birokrasi dan politisi. Tapi sayangnya kebanyakan terungkap setelah si empunya ijasah terpilih menjadi birokrat atau wakil rakyat. Dan bila itu terjadi pembuktian jadi semakin sulit.

Kenapa? Tentunya ada faktor-faktor non-teknis yang mempengaruhi. Bahkan kenyataannya sudah menjadi semacam tren, toh ijasah hanyalah persyaratan formal, yang penting bisa membeli dan tidak ada bedanya orang mengenyam pendidikan tersebut dengan yang tidak.Kasus-kasus ini mencoreng nama pendidikan kita di mata dunia, sudah mutu pendidikan rendah, orang-orangnyapun banyak yang menuntut ilmu dengan cara maling.Sebetulnya pada beberapa kasus, ijasah palsu bukanlah isapan jempol untuk menjatuhkan karir politik atau pembunuhan karakter dari lawan-lawan politik, tetapi memang telah terbukti terjadi, berdasarkan pengakuan sendiri para pelaku pemalsu ijasah, baik dari institusi maupun perorangan.

Itulah kenapa Indonesia sulit maju. Tidak banyak orang pintar bahkan seorang Presiden seperti SBY yang bekerja di tempat yang tepat, akibatnya membikin peraturan dan kebijaksanaan juga ngawur, disiplin yang rendah, tingginya angka korupsi, makan gaji buta, tidak peduli kepada rakyat, tidak punya malu, dan lain-lain.Politik boleh melakukan berbagai cara untuk mencapai kekuasaan, tapi jangan segala cara, yang benar dan yang batil, yang akhirnya rakyat juga yang jadi korbannya.






Sumber:



Wanda Hamidah, SH, MKn, Artis Cerdas Indonesia, 2009, Bukan Ijazah Palsu seperti Ratu Atut Chosiyah


Kisah sukses lainnya sebagai artis yang selesai sekolahnya adlaah Wanda dari PAN Jakarta. Wanda Hamidah, SH, MKn, Artis Cerdas Indonesia, 2009, Bukan seperti Ijazah Palsu seperti Ratu Atut Chosiyah yang sangat memalukan bangsa dan negara Indonesia.
Wanda adalah seorang Notaris yunior lulusan S1 dari FH Trisakti, S2 FH-UI. Juga yang terpenting adalah bahwa Wanda adalah artis Indonesia yang sangat sabar menanti dan meniti karir politiknya. Ia bersekolah dengan serius dan mengisi kompetensi dirinya agar dapat bersaing dengan para seniornya dari lintas partai. Keseriusannya membuahkan kepercayaan dari PAN dan mendudukkannya pada jajaran Caleg DKI Jaya dan berhasil duduk disana mewakili PAN.
Selamat Wanda, anda memang layak maju dan berhasil.

Konspirasi Ijazah Palsu Nasional Indonesia Dari Dikti sampai Istana Negara


Konspirasi Ijazah Palsu Nasional Indonesia Dari Dikti sampai Istana Negara, demikian yang dijelaskan oleh Dirjen Dikti Dr. Fasli Djalal dikantornya.
Beliau sendiri merasa kesulitan membereskan Prof. Dr. Bashir Barthos Ketua Yayasan dan Rektor Universitas Borobudur, Jakarta Timur, karena yang bersangkutan adalah anggota Partai Demokrat dan Sepupu Pemilik Pasar Raya Sarinah Jaya Abdul Latief sang mantan Menakertrans Indonesia sejak zaman Presiden Soeharto sampai sekarang.
Universitas Borobudur Jakarta memang dikenal kerap membawa plesir semua Dirjen di Diknas, terutama DIKTI karena menyangkut kepentingan Yayasan Pendidikan yang dikelolanya. Dr. Fasli Djalal adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap kebohongan publik yang dilakukan oleh Ratu Atut Chosiyah disaat mengikuti Pilkada Banten 2006 yang lalu.

Inginnya Ratu Atut Chosiyah Sepintar Rieke Pitaloka dari PDIP

Rieke Diah Pitaloka adalah seorang artis papan atas Indonesia yang berhasil duduk di DPR RI setelah lompat pagar dari PKBke PDIP. Ketika di PKS dan bersmushan dengan Yenni Gus Dur, Rieke sudah tahu bahwa masa depan karir politiknya sudah tidak ada disana. Namun Rieke adalah seorang pekerja keras. Kapanpun ada bencana nasional didapilnya, tanpa segan dia langsung bergerak kesana.

Dari sisi akademik Rieke sangat membanggakan. Mengantongi dua ijazah S1 dari Sastra Belanda-UI dan Filsafa Dyriyakara iapun lulus dengan sangat memuaskan dari S2-UI bidang Filsafat dimana sekaligus mengawini salah seorang dosen pembimbingnya Donny Gahral.

Nah, rupanya Ratu Atut Chosiyah sidungu itu sangat iri hati pada Rieke, karena merasa sama-sama urang Sunda. Inginnya Ratu Atut Chosiyah Sepintar Rieke Pitaloka dari PDIP.
Namun apa daya kemampuan otak Ratu Atut pas-pas saja. Sehingga tanpa sungkan-sungkan Ratu Atut Chosiyah membeli ijazah S1 melalui Fakultas Ekonomi Universitas Borobudur Jakarta Timur yang dipimpin oleh Profesor Doktor Bashir Barthos, seorang pecundang intelektual Indonesia kader Partai Demokrat.


Kehebatan Rieke adalah ketika masuk DPR RI dia sudah tahu akan duduk di Komisi 9 yang membawahi masalah buruh dan kesehatan yang sebelumnya dikendalikan oleh dr. Riebka Ciptaning mantan anak Gerwani/PKI dimasa lalu.

Rabu, 30 September 2009

Gempa Bumi Padang dan Pelantikan Anggota DPR Keluarga Ratu Atut Chosiyah Koruptor Masuk Senayan Semua

Bertubi-tubinya pertanyaan wartawan disaat shooting langsung TV ONE diacara dukungan terhadap Aburizal Bakrie menuju kursi Ketua Umum Golkar 2009 bulan Oktober besok di Riau memberikan kegelisahan tersendiri bagi Ratu Atut.

Ibu beranak tiga ini memang tetap menyimpan kegelisahaan akan terbongkarnya aib yang sejak 4 tahun lalu disimpannya rapat-rapat, yaitu bahwa dia sebenarnyapun tidak pernah lulus dari SMAN Bandung.
Hanya seorang Fadel Mohammad yang dapat menenagkan hatinya yang gelisah.

Oleh danielht - 1 Oktober 2009 - Dibaca 1201 Kali -

Tanggal 30 September 2009 Indonesia kembali berduka dengan terjadinya gempa dahsyat di Padang, dan sebagian daerah lainnya di Sumatera Barat. Dengan skala 7,6 Richter dipastikan bahwa gempa bumi ini mempunyai daya dan efek destruktif yang sangat serius. Sudah dapat dipastikan juga bahwa akan lebih luas dan parah daripada gempa bumi yang barusan terjadi di Jawa Barat. Baik dalam hal korban jiwa, maupun harta-benda (daya rusaknya).

Tanggal 01 Oktober 2009, DPR RI plus DPD mempunyai acara besar, ekstravaganza pelantikan anggotanya periode 2009-2014 dengan biaya maha jumbo, yang jika ditotalkan mencapai: Rp. 46,049 miliar! Sedangkan upacaranya sendiri hanya akan berlangsung selama beberapa jam!
Apakah gempa bumi dahsyat di Padang, Sumatera Barat itu akan mempengaruhi acara pelantikan termewah sepanjang sejarah DPR itu? Anggaran telanjur dibuat, biaya telanjur disalurkan, maka “terpaksa” seremoninya tetap berjalan seperti biasa. Barangkali itu yang akan dijalankan dan dijadikan alasannya. Paling pasti akan ada acara mengheningkan ciptanya sambil memasang mimik sedih. Padahal hati tetap berbunga-bunga: “Aku sekarang menjadi anggota dewan yang terhormat!

Mudah-mudahan tidak demikian halnya. Setidaknya, — meskipun kita semua tentu sangat tidak mengharapkan terjadinya gempa bumi itu, tetapi terjadinya gempa bumi Padang ini, barangkali sekaligus menjadi batu ujian dan bahan indikator untuk melihat perilaku dan reaksi para anggota dewan yang terhormat yang akan mewakili kita semua untuk 5 tahun ke depan ini.
Biaya Rp 46,049 miliar memang luar biasa besarnya. Siapa yang menyangkal? Padahal anggaran Negara dalam keadaan yang serba terbatas. Mungkin belum ada duanya di dunia ini sebuah negara menghabiskan begitu besar anggaran hanya untuk sebuah seremonial pelantikan anggota parlemennya. Negara yang jauh lebih makmur, atau paling makmur pun tidak begini.
Dari perincian besarnya anggaran masing-masing pos, kita bisa melihat betapa tidak masuk akalnya biaya-biaya tersebut.


Rincian biayanya dapat dibaca disini :
Dalam suatu acara pelantikan seperti itu, satu hal terpenting dan menjadi intisari dari makna sebuah pelantikan sebenarnya isi sumpah jabatan yang mereka ucapkan bersama. Bahwa mereka sejak pengucapan sumpah itu dilakukan berbeda dengan mereka sebelumnya. Sejak saat itu mereka adalah WAKIL RAKYAT, bukan yang lain! Konsekuensi logisnya mereka wajib benar-benar mengemban, menghayati dan berdedikasi, aspiratiuf dalam tugas dan kewajibannya sebagai wakil rakyat. Mengutamakan kepentingan rakyat, bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi dan golongannya. Sayangnya, biasanya justru konsekuensi tidak logislah yang berbicara kelak. Antara lain bagaimana caranya supaya biaya-biaya besar yang telah dikeluarkan selama kampanye caleg itu bisa pulang modal, dan berbalik untung besar?
Kompas, Senin, 28 September 2009: “Dewan Baru Perlu Terobosan,” mengawali tulisannya dengan menulis: “Ekspektasi publik terhadap Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 relatif tinggi dibandingkan dengan DPR periode sebelumnya. Untuk itu, Dewan baru diharapkan membuat terobosan kebijakan agar tidak mengulang kesalahan dan memperbaiki reputasi yang jelek. …”

Dalam jajak pendapat yang dilakukan Kompas, menunjukkan rata-rata tingkat keyakinan publik terhadap anggota DPR baru yang akan dilantik pada 1 Oktober 2009 ini lebih baik daripada DPR yang sekarang.

Pertanyaannya, apakah hal demikian yang akan terjadi? Tanpa mengecilkan anggota dewan yang pasti akan ada juga yang benar-benar menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat, saya pesimis bahwa hal tersebut akan terwujud.


Salah satu indikasinya adalah tentang biaya maha jumbo upacara pelantikan itu sendiri. Para anggota dewan yang baru itu kemungkinan malah memang mengharapkan dapat menikmati dan merasa banggannya sebagai bagian dari suatu seremonial yang wah itu. Dilantik menjadi anggota DPR RI dalam sebuah acara dengan anggaran Rp 46,049 miliar! Mungkin mereka akan merasa lebih bangga lagi kalau tahu ternyata di dunia ini hanya DPR RI saja yang bisa begini!

Jangan lupa bahwa virus anggota dewan baru tapi lama, alias yang terpilih kembali, juga siap menjangkit para anggota baru (dari daerah) dan masih “lugu-lugu” itu. Begitu merasa enaknya menjadi anggota “dewan yang terhormat”, seketika lupa akan semua sumpah jabatannya.
Dengan fenomena pembiayaan sebuah acara pelantikan sedemikian fenomenal mempunyai kesan kuat bahwa penyelenggara dan pesertanya sendiri lebih mementingkan suatu kemegahan ketimbang makna hakiki dari sebuah pelantikan jabatan Negara.

Padahal apabila mereka, para anggota dewan yang baru itu benar-benar berkomitmen tinggi, mereka sebenarnya dapat menunjukkan jati dirinya bahwa mereka berbeda dengan DPR sebelumnya yang materialistis, sarat dengan berbagai kasus kriminal, terutama sekali korupsi. Bahkan menjadi salah satu sarang koruptor di samping Kepolisian dan Kejaksaan. Menjadi seolah-olah bangunan DPR (/MPR) yang mirip rumah keong itu menjadi lambang dari perlindungan para koruptor yang lewat kekuasaannya bisa merekayasa dan memperdagangkan jabatannya dalam proses suatu RUU disahkan menjadi UU.

Apabila para anggota dewan yang baru ini benar-benar berjiwa lebih baik daripada pendahulunya sebetulnya mereka dapat berkolabarasi, bersatu untuk melakukan hal-hal yang “memaksa” KPU, Setjen DPR dan DPD untuk memangkas anggaran yang tidak masuk akal itu. Hal-hal tersebut antara lain:

- Membiayai biaya perjalanan sendiri, jadi tidak menerima biaya perjalanan dari penyelenggara, terutama sekali yang tinggal di Jabodetabek.

- Yang tinggal di Jabodetabek, tidak usah ikut-ikutan tinggal di hotel, apalagi ikut-ikutan menerima uang saku.

- Memilih hotel yang lebih murah dan lama menginap lebih singkat . Kalau bisa satu kamar untuk dua orang, bukan satu kamar satu orang.

- Menjahit jasnya sendiri. Minta saja standar modelnya bagaimana, terus jahit sendiri/masing-masing atas biaya sendiri.

- Untuk biaya pindah anggota keluarga, dibayar sendiri. Apalagi yang tingkat ekonominya memang sanggup untuk itu. Atau dengan menggunakan alat transportasi yang murah seperti kereta api (tapi barangkalai akan gengsi, “ keluarga DPR kok pake kereta api?”)
Sebuah ironi terjadi, apabila baru dalam hitungan jam terjadinya gempa bumi dahsyat di Padang, dan daerah lainnya di Sumatera Barat itu, yang sudah tentu akan menyebabkan ratusan sampai ribuan orang kehilangan jiwa, keluarga, kerabat, rumah tinggal, pekerjaan, dan sebagainya, hidup segera berubah menjadi hidup penuh derita. Dalam ketidakpastian. Rakyat dalam kedukaan. Di Senayan sana, para wakilnya malah berpesta dalam seremonial menghabiskan uang rakyat sampai Rp 46 miliar lebih!

Bisakah mengubah format acara pelantikannya menjadi sesederhana mungkin. Selesai secapat mungkin, untuk member kesempatan kepada para anggota dewan baru itu datang langsung ke lokasi bencana untuk member sumbangan moril dan materi kepada korban dan keluarganya?
Relakah mereka menyerahkan sebagian atau bahkan semua uang saku yang baru diperolehnya untuk disumbangkan ke korban gempa bumi di Padang, Sumatera Barat?! Bukankah secara materi semua kebutuhan mereka sebagai pejabat Negara toh sudah pasti terjamin bahkan lebih dari cukup?

Mari kita lihat.

***

JK & Ratu Atut Chosiyah takut sama KPK: Toto Sugiarto, Peneliti pada Soegeng Sarjadi Syndicate

20 Juni 2009 - Dibaca 12208 Kali -

Di tulis di tahun 2006, jadi jelas bukan rekayasa the Fox and The Mallarangeng brothers…:)

Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai, upaya KPK memberantas korupsi membuat kalangan birokrat takut. Akibatnya, perekonomian terganggu.

Hal itu disampaikan Kalla saat membuka seminar internasional mengenai reformasi birokrasi, beberapa hari menjelang Hari Antikorupsi Sedunia. Penilaian itu memunculkan keraguan atas keseriusan pemerintah memberantas korupsi.Munculnya ketakutan di kalangan birokrat atas gerakan antikorupsi adalah suatu afirmasi korupnya birokrasi. Dengan adanya ketakutan itu dapat dipastikan, para pencuri “tiarap”. Kondisi ini merupakan keberhasilan gerakan antikorupsi dan tidak sepatutnya dinilai negatif.

Mengapa pemberantasan korupsi dinilai negatif? Mengapa harus “gerah” terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)?


Berawal dari UKP3R
Ketidaksepahaman Wapres atas KPK mulai terlihat saat Presiden Yudhoyono membentuk UKP3R. KPK mendukung lembaga yang dipimpin Marsilam Simanjuntak itu. Sedangkan Kalla, didukung Golkar, mengambil posisi berlawanan.

Peristiwa itu seperti membuka kotak pandora partai berlambang pohon beringin tersebut. Sikap meradang Partai Golkar dan ketua umumnya seperti bentuk pancaran roh Golkar lama. Roh yang selama ini tertutup paradigma Golkar baru yang selalu didengungkan para “Golkaris”.
Sejak itu, belum terlihat adanya momen yang menggambarkan hubungan harmonis antara KPK dan Jusuf Kalla (serta Partai Golkar).


Penguasa-pengusaha
Penyebab lain di balik keluhan atas KPK adalah latar belakang Kalla sebagai pengusaha. Bagi pengusaha, berjalannya bisnis adalah segalanya. Sebagian dari pengusaha cenderung tidak terlalu peduli terhadap korupsi dan dampak negatifnya. Bahkan, banyak yang akhirnya beranggapan korupsi merupakan pelicin dan metode efisiensi bisnis.

Penguasa-pengusaha seperti itu sering cenderung bersikap kurang mendukung pemberantasan korupsi. Baginya, berjalannya bisnis lebih penting dijamin daripada mengoptimalkan pemberantasan korupsi yang berdampak pada melambatnya putaran roda perekonomian.
Penguasa-pengusaha seperti ini lebih mudah menyelewengkan kekuasaan dibandingkan penguasa dari kalangan lain. Penyebabnya, kepentingan bisnis lebih diutamakan, terutama bisnis pribadi dan kelompoknya. Dari sini terlihat, mereka adalah kalangan yang paling tidak loyal terhadap kepentingan umum, termasuk kepentingan penciptaan iklim berpolitik dan berbisnis yang bersih dari korupsi.


Di tangan penguasa-pengusaha seperti ini, kekuasaan mudah bermuara pada patronase bisnis. Dia akan mudah menjadi patron yang dikerubungi pengusaha lain yang menempatkan dirinya sebagai klien. Maka, terjadilah hubungan patron-klien yang kemungkinan besar akan diwarnai korupsi, kolusi dan nepotisme.

Pernyataan Kalla yang mengeluhkan kegarangan KPK dalam membasmi korupsi memunculkan pertanyaan, apakah ia termasuk penguasa-pengusaha yang tidak peduli terhadap pemberantasan korupsi.

Dan, terkait UKP3R, apakah reaksi spontan Kalla dan Partai Golkar terhadap UKP3R berlatar belakang alergi terhadap pengawasan? Apakah Kalla tak senang dengan KPK dan UKP3R?
Pembalikan cara pikir

Wapres Jusuf Kalla perlu melakukan pembalikan cara pikir dalam melihat hubungan antara pemberantasan korupsi dan kondisi perekonomian. Pikiran bahwa pemberantasan korupsi mengganggu roda perekonomian bisa berbahaya dan merugikan. Pikiran seperti itu akan menjadi justifikasi berbagai praktik korup yang terjalin antara aparat birokrasi dan kalangan dunia usaha, antara pelayan masyarakat dan yang dilayani.

Karena itu, pikiran itu perlu dibalik menjadi pemberantasan korupsi akan mempercepat perputaran roda perekonomian. Pembalikan cara pikir ini penting demi keberhasilan pemberantasan korupsi. Tujuannya adalah terciptanya iklim berpolitik dan berbisnis yang bersih.

Dengan iklim yang bersih dari korupsi, akan tercipta perputaran roda perekonomian yang cepat dan berbiaya rendah. Dengan iklim seperti itu, waktu pengurusan investasi akan cepat dan murah, pungutan liar yang dilakukan para pemegang otoritas akan hilang, dan berbagai hambatan dapat diminimalisasi. Di sisi lain, pendapatan pajak akan optimal sehingga pembangunan infrastruktur bisa lebih baik. Akhirnya, perputaran roda perekonomian akan berbentuk percepatan.

Wapres perlu menunjukkan sinyal positif terhadap pemberantasan korupsi dan KPK. Ini wujud tanggung jawab moral Kalla sebagai pemimpin dan pejabat publik. Statusnya sebagai penguasa-pengusaha diharapkan tak membuatnya abai terhadap tanggung jawab moral itu. Untuk itu, kepentingan politik dan ekonomi pribadi serta kelompok dikesampingkan. Langkah ini diperlukan, semata-mata demi kebaikan rakyat, bangsa, dan negara.

Toto Sugiarto, Peneliti pada Soegeng Sarjadi Syndicate.

Ijazah Palsu, Gubernur Palsu Ratu Atut Chosiyah, Profesor Beneran Jadi TKI



Oleh doddy poerbo


Ternyata bukan hanya buruh saja yang menjadi TKI, seorang Profesor juga termasuk mejadi TKI. Mungkin negara jiran kita itu adalah negara yang menarik untuk mendulang uang. Kalau negara Jiran itu adalah negeri yang menjadi sumber duit, seharusnya kita bertanya mengapa negeri kita menjadi tempat yang kering.


Belum lagi masalah ekonomi dan politik yang mengundang intrik diantara anak bangsa ini, becana alam susul menyusul harus dialami bangsa ini. Entah berapa besar harta benda yang hancur dalam sesaat, entah berapa banyak nyawa yang melayang, tangisan anak kecil sampai orang tua terdengar bagaikan sebuah paduan suara panjang yang tidak pernah berhenti.
Sementara banyak saudara kita berjuang mencari nafkah dinegeri orang, dinegeri sendiri banyak saudara kita yang berjuang menyelamatkan harta dan nyawanya.


Besok, lusa dan seterusnya, orang yang tak terkena musibah, orang yang tidak berjuang akan mengulas, membangun opini bahwa musibah itu akibat kutukan dari Allah SWT karena menurut pendapatnya negeri ini dipimpin oleh orang yang zolim. Bak seorang pahlawan, dia akan tunjuk hidung bahwa musibah gempa itu sebagai tanggung jawab SBY.


Secara kebetulan wilayah Indonesia berada pada lempengan patahan bumi, pergerakan lempengan tersebut akan menekan satu sama lain yang berakibat terjadinya gerakan tanah yang cukup keras dan menggoyangkan segala yang berada pada lapisan atas kulit bumi. Sebuah fenomena alam yang dikaitkan hal yang tidak rasional kadang dapat diterima oleh orang yang sesungguhnya mempunyai akal pikiran yang masih sehat.


Cepat atau lambat, pada akhirnya negeri ini akan ditinggalkan orang-orang yang mempunyai sifat pejuang kemandirian hidup selain karena bencana juga karena semakin banyak orang yang berpola pikir tidak rasional hingga negeri ini penuh intrik yang membuat orang tidak bisa bekerja lagi untuk menafkahi hidupnya.


Apakah ini sebuah tanda tanda kiamat ?. Mungkin saja demikian, bermula dari perginya bangsa ini untuk mencari nafkah dinegeri orang, terjadinya bencana alam yang memang kejadian alam murni atau akibat perbuatan manusia, terjadinya intrik yang berkempanjangan, kelakuan bangsa yang senang korupsi, bukan tidak mungkin akan menimbulkan ketidak puasan. Ketidak puasan tersebut akan memecah bangsa ini untuk berjuang dalam kelompok kelompok perjuangan dengan latar belakang kepentingan yang berbeda. NKRI yang dibangun oleh pejuang bangsa dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah dengan darah pada akhirnya akan terpecah belah, kiamat bagi NKRI.


Semoga kiamat itu tidak menjadi kenyataan, bencana alam, intrik diantara anak bangsa mungkin sebuah peringatan dari Allah SWT agar bangsa ini mau mengkoreksi diri. Bencana akan menimbulkan rasa persaudaraan yang menghilangkan intrik diantara anak bangsa ini mudah2an akan menjadi kenyataan.


Mudah2an saja, kepergian anak bangsa ini menjadi TKI bukanlah tanda2 kiamat bagi NKRI tetapi sebuah gambaran bahwa anak bangsa ini dihargai oleh bangsa lain yang akan menyadarkan kita semua bahwa anak bangsa seharusnya dapat saling menghargai satu sama lain.

Istri yang Mengajak Berteman Selingkuhan Suaminya: Ratu Atut Chosiyah

Oleh Dwiki Setiyawan - 1 Oktober 2009 - Dibaca 2414 Kali -

USIANYA sudah di atas kepala empat. Berkulit kuning gading. Rambut masih hitam berombak tergerai sebahu. Berperawakan sedang dengan tinggi badan kurang lebih 160 centimeter.
Mencuri-curi pandang dan menatap sekilas garis-garis dan lekuk liku raut muka Nyonya HM ini (sengaja saya sembunyikan identitas aslinya) tidak disangsikan lagi bahwa ia masih memancarkan aura kecantikan luar biasa.
Tatapan matanya teduh cenderung sendu, namun menyejukkan relung kalbu bagi siapapun orang yang bertemu pandang dengannya. Langgam bicaranya mengalir begitu saja dan bening cemerlang bagaikan aliran anak sungai yang keluar dari celah-celah pegunungan. Tak pelak, Nyonya HM termasuk segelintir perempuan dengan pesona tersendiri. Apabila kita telah mengenal, berbincang-bincang dengannya tidak ada kamus bosan. Canda-canda segar masih tetap terselip, betapapun seriusnya sesuatu yang tengah diperbincangkan.

Suami Nyonya HM adalah mantan pejabat negara. Berinisial MS. Tuan MS ini berusia sama dengan umur republik ini. Ia pernah menjabat Kepala Kanwil sebuah departemen di beberapa provinsi semasa pemerintahan Orde Baru. Sebelum penugasan baru sebagai pejabat negara di Jakarta, Tuan MS pernah pula 2 (dua) periode menjabat Bupati/Kepala Daerah di sebuah kabupaten pesisir selatan Pulau Jawa.

Salah satu sifat dan perilaku Tuan MS sebagai suami Nyonya HM yang dikenal sejak muda dan memulai mengayuh biduk rumah tangga, adalah kesukaannya pada daun-daun muda yang segar dan “kinyis-kinyis”.

Pada suatu kesempatan, Nyonya MS bercerita pada saya tentang pasangan-pasangan selingkuh Tuan MS, semenjak lebih dari seperempat abad ia membina rumah tangga. Namun Nyonya MS dengan halus menolak membuka resep rahasianya, bagaimana ia dapat mengendus selingkuhan suaminya.

Sebagai laki-laki, saya paham benar bahwa setiap perempuan bersuami memiliki indra keenam tentang pasangan hidupnya. Serapat-rapatnya seorang suami menutupi ketidakjujuran pada istri, naluri dasar istri akan segera mendeteksi bahwa suaminya telah keluar dari janji-suci yang pernah terikrar.

Nyonya HM tidak memungkiri bahwa ia kecewa dan sakit hati oleh ketidakjujuran dan pengkhianatan suaminya. Ia mengatakan pula acap bertengkar hebat di awal-awal pernikahannya. Di masa-masa senjanya saat ini, kadang masih pula bertengkar untuk masalah yang sama, namun dengan nuansa berbeda. Ia menukas, sebuah konflik dalam rumah tangga adalah hal yang biasa, seraya mengatakan perlunya mengendapkan emosi pada saat puncak konflik rumah tangga terjadi.

Tidak pernah terbersit pada diri Nyonya HM mengakhiri mahligai perkawinan yang dengan susah payah dirajut penuh kesabaran dan pengorbanan, hanya lantaran skandal selingkuh suaminya. Baginya, masa depan anak-anak juga dirinya sendiri di atas segala-galanya. Ia punya kiat sendiri untuk menaklukkan hati selingkuhan suaminya –yang mungkin berbeda dan bertolakbelakang dengan kaum perempuan seperti dirinya.

Dengan cara yang telah teruji bertahun-tahun lamanya, selalu saja ada celah untuk mengendus selingkuhan suaminya. Dengan teknik tertentu, ia bisa memburu nomor kontak telepon atau kediaman ‘gula-gula” suaminya. Riak-riak kecil rumah tangga seperti saya ungkap di atas mengiringi kala si suami terdeteksi berselingkuh.

Alih-alih Nyonya HM melabrak dan mendamprat tatkala telah bertemu buruannya itu. Tidak terlintas sama sekali soal tersebut di langit pikirannya. Ia hanya ingin bertemu, dan menyelesaikan persoalan secara baik-baik. Dari hati ke hati. Berdasarkan nalurinya sebagai seorang perempuan, sekaligus seorang ibu. Yang lebih kental ungkapan ekspresi perasaan ketimbang rasio semata. Tidak diceritakan detail bagaimana reaksi suami ketika soal dimaksud terungkap ke permukaan.

Menurut penuturannya, jika seorang istri dihadapan selingkuhan suaminya berperilaku dengan emosi membuncah, keras hati dan sikap permusuhan tinggi dikhawatirkan sang selingkuhan suaminya bertindak dua hal. Yang pertama kemungkinan ia akan mundur secara teratur; atau sebaliknya yang kedua ia akan mempertahankan mati-matian jalinan terlarang yang telah dibinanya itu. Hanya lantaran harga diri peselingkuh itu yang merasa terkoyak.

Makanya Nyonya HM tidak mau mengambil resiko tinggi. Ia melakukan komunikasi intensif seolah-olah “teman lama” selingkuhan suaminya itu. Dan faktanya, ia memang menawarkan diri sebagai teman, walau pada kenyataannya pertemanan itu berakhir tatkala badai rumah tangga reda dan selingkuhan suaminya menyesali dan memutus ikatan terlarang yang telah terbina itu.
Selama lebih seperempat abad, Nyonya HM menggunakan metode di atas untuk memutus rantai perselingkuhan suaminya. Metode manjur dan telah teruji disertai modifikasi-modifikasi tertentu dalam perjalanan sang waktu. Ia tidak menyesali usaha keras untuk tetap membentengi istana rumah tangga dari serbuan musuh yang bertubi-tubi menyerang tiba-tiba atau acapkali kasat mata. Cara yang ditempuhnya mungkin tidak lazim bagi kebanyakan perempuan. Namun ia bersyukur pada Sang Maha Pencinta, atas rahmat dan karunia sekalipun pada jalan berliku yang ditempuhnya selama ini. Untuk tetap menjaga mahligai rumah tangga, demi anak-anak tersayang dan suami yang dicintainya sepenuh hati.
*****

Presiden SBY Ikan Busuk dari Kepala, Lingkungan Korupsi Presiden SBY


Ratu Atut rupanya sangat memimpikan menjadi Menteri Sosialnya Presiden SBY pada periode Kedua beliau.
Hanya yang mengganjal adalah masalah ijazah SE dia dari Universitas Borobudur, sehingga Ibu Ani SBY merasa takut nama baik suaminya tercemar gara-gara Ratu Atut ini!

Entri Populer