Total Tayangan Halaman

Design by Ferry Muchlis Ariefuzzaman

Design by Ferry Muchlis Ariefuzzaman
Media Team for Atut's Success to be a Governor
Tampilkan postingan dengan label rieke pitaloka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rieke pitaloka. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juli 2009

Rieke "Oneng" Pitaloka Duta Pos Jabar




Selasa, 27 Januari 2009 15:38 WIB Hiburan Dibaca 98 kali


Bandung, (ANTARA News) - Artis Rieke "Oneng" Diah Pitaloka dipilih menjadi "Duta Pos" Wilayah V Jawa Barat untuk mensosialisasikan gerakan "Ayo ke Pos" di wilayah Jawa Barat. "Rieke Pitaloka terpilih menjadi Duta Pos wilayah Jawa Barat, ia mempunyai kecintaan kepada Pos. Diharapkan kehadirannya bisa memotivasi masyarakat untuk banyak menggunakan jasa layanan Pos," kata Kepala Humas Kantor Pos Besar Bandung, Suyud Suhendar di Bandung, Selasa.
Menurut Suyud, selain Rieke, banyak beberapa selebritis dan ikon masyarkat lainnya yang dinominasikan menjadi Duta Pos di wilayah Jawa Barat. Termasuk artis Marissa Haque dan Gubernur penyanyi Ratu Atut Chosiyah. Namun kecintaan Rieke terhadap barang-barang dan layanan Pos menjadi salah satu penilaian tersendiri terhadap artis kelahiran Kabupaten Garut itu. Rencananya pengukuhan isteri dari Dony Gahral menjadi ikon dan "Duta Pos" wilayah Jawa Barat itu akan dilakukan awal Februari 2009 mendatang.

Sementara itu Rieke "Oneng" Pitaloka mengaku senang dengan terpilihnya menjadi ikon Pos di wilayah Jawa Barat. Ia menyebutkan hal ini tidak ada kaitan dengan sebagai calon legislatif."Sejak masuk sekolah SMP suka kirim surat pake Pos. Saya juga menabung di Tabanas lewat Kantor Pos juga," kata Rieke.

Oneng mengajak masyarakat untuk menggunakan jasa layanan Kantor Pos yang saat ini semakin lengkap dan bervariasi. Ia mengaku selalu menggunakan fasilitas layanan Pos untuk surat menyurat. Selain itu, ternyata Rieke merupakan pecinta filateli atau benda-benda Pos. Koleksi filateli yang dikumpulkannya, kata Rieke cukup komplit. Memburu perangko merupakan salah satu hobinya di sela-sela kesibukannya sebagai artis dan aktivis politik.(*)

COPYRIGHT © 2009

Pencopotan Kajati Banten dalam Kasus Prita


Kompas Cyber Media tertanggal 12 Juni 2009, bahwa Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Banten Dondy K Sudirman dicopot dari jabatannya. Dan layaknya gaya sisa rezim Orde Baru yang sangat represif dan otoritatif – seperti biasa pihak Kejaksaan Agung membantah perhal terkait isu dicopotnya Dondy terkait kasus Prita seorang ibu rumah tangga yang menyebar ketidakpuasan atas layanan RS Omni melalui surat elektronik (email).

Argument dari Kejaksaan Agung dinyatakan bahwa hal mutasi semacam itu merupakan hal umum yang besifat biasa serta sama sekali tidak terkait dengan kasus penanganan Prita Mulyasari oleh kejaksaan. Hhhmmm… Sementara menurut hipotesa saya justru sebaiknya! Kelihatannya insya Allah Kang Pepih setuju dengan dugaan sementara saya bahwa dicopotnya Kejati Banten pak Dondy itu justru karena ‘diduga’ dianggap memiliki ‘andil’ pendzoliman atas Prita Mulyasari oleh kejaksaan sehingga terpaksa harus meringkuk di tahanan!

Ketika dinayatakan oleh Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Jasman Pandjaitan bahwa mutasi tersebut diatas dianggap biasa seperti yang juga sering terjadi pada jaksa-jaksa lain dari institusi hukum ini, justru kecurigaan masyarakat termasuk saya didalamnya semakin meningkat. Bahwa telah terjadi ‘dugaan’ money politics terkait dengan masih sangatnya ‘dugaan’ MAFIA PERADILAN yang melakukan praktek tersebut dari seluruh jajaran institusi hukum terkait dinegeri ini… sampai hari ini! Pak Kejati Dondy kini menjadi staf ahli Jaksa Agung, sementara posisi Kajati Banten yang ditinggalkannya lalu sekarang ini diisi oleh Abdul Wahab Hasibuan yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kajati Sumatera Selatan.

Terkait dengan RS Omni Internasional tersebut sendiri, Jaksa Agung Muda Pengawasan Hamzah Tadja menyatakan, bahwa RS Omni insya Allah kemungkinan besar akan diperiksa terkait kasus Prita itu. Saya pribadi sebagai pengamat hukum cukup aktif dinegeri ini, berharap bahwa kita semua mampu menjadi watch-dog terhadap pemeriksaan Kejakssan Tinggi Banten terkait dengan kasus Prita. Karena tidak tertutup kemungkinan bahwa rencana menuntut RS Omni hanya ‘hangat-hangat tahi ayam’ seperti yang sudah-sudah!
Karena sejelasnya didalam pasal pidana tersebut dinyatakan: “… barang siapa…” Yang artinya dapat menjerat pribadi maupun institusi, siapapun dia tanpa terkecuali – dalam bentuk/wujud/entitas/entity/thing tertentu itu. Karena kebebasan berekspresi bukan bermakna tanpa bingkai hukum. Disukai atau tidak, disetujui atau tidak, Indonesia tetap adalah Negara Hukum yang tercantum dalam Pasal 1 ayat 3 UUD 45. Sehingga walau sampai kini ‘diduga’ masih dipenuhi oleh praktek mafia peradilan, dan para pelaku penjujur keadilan dinegeri ini masih melakukan Espirit de Corps (saling melindungi pelaku kejahatan/delik pidana birokrasi dalam institusi tertentu), namun hukum harus tetap kita junjung tinggi.

Fereat Mundus!

Golkar dalam Nurul Arifin, Ratu Atut


30 November 2007 - 11:45 WIB

Golkar dalam Nurul Arifin, Ratu Atut
Konon orang-orang Gunungkidul melihat pulung gantung beberapa hari sebelum bencana gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang Yogyakarta. Sebentuk sasmita alam dalam wujud bola cahaya sebesar batok kepala berwarna biru kemerahan melayang-layang di angkasa. Sejak lama orang-orang Gunungkidul percaya pulung gantung sebagai pertanda musibah maha-dahsyat bakal tiba. Percaya atau tidak, banyak yang mati gantung diri setelah menyaksikan firasat gaib itu. Sejumlah penelitian perihal kecenderungan bunuh diri di Gunungkidul kerap dihubungkaitkan dengan mitos pulung gantung. Mereka memilih mati lebih dulu, sebelum petaka itu datang, toh nanti juga bakal mati.

Begitulah jalan aman yang ditempuh ayah Tini seperti dikisahkan novel Harga Seorang Wanita (2006) yang saya baca beberapa bulan lalu. Suatu malam, ayah Tini melihat pulung gantung meluncur dari langit dan jatuh di atap rumahnya. Esok pagi orang-orang Desa Wiloso menemukan mayat lelaki itu menggantung di dahan pohon jati, tak jauh dari rumahnya. Tak lama berselang, bala yang mereka takutkan sunggguh-sungguh tiba: Desa Wiloso terancam kelaparan. Panen gagal, wabah busung lapar berjangkit, kemarau berkepanjangan, sawah ladang retak-rengkah, sapi dan kambing kurus kering karena rumput sukar didapat. Orang-orang terpaksa makan tiwul. Tapi, bagi Simbok, itu bukan salah pulung gantung, bukan pula salah alam Gunungkidul yang tak ramah, melainkan sudah pepesthen, kepastian yang tak bisa dielakkan. Miskin, lapar, makan tiwul, dan bunuh diri adalah takdir. Menjanda setelah kematian suami juga takdir.

Di saat para pengarang kita sibuk membungkus cerita dengan aneka kemasan yang mengkilat, kinclong, sedap dipandang mata (tapi abai isi), pengarang buku itu justru mencibirkan segala macam permainan bentuk yang mengasyikkan itu. Ia justru menukik di kedalaman sumur kemelaratan di dusun-dusun Gunungkidul. Tengoklah peruntungan Simbok! Tersebab miskin, suaminya nekat gantung diri (meski dengan dalih pulung gantung). Karena miskin, Simbok jadi gundik pamong desa (Wirono), jadi babu dan pemuas berahi Bendoro. Wajah ayunya jadi bopeng, remuk tak berbentuk. Disiram air panas oleh Raden Sunartijah (istri Bendoro) saat tertangkap basah sedang mengeroki Bendoro.

Namun, pulung gantung tak pernah enyah dari hidup Simbok. Lagi-lagi bola cahaya biru kemerahan itu meluncur dari langit, jatuh di atap usang rumah gedeknya. Kali ini firasat perihal bala yang bakal menimpa Tini, anak perempuan satu-satunya. Simbok gelisah sejak Tini mohon izin untuk bekerja di Yogya. Dalam terawang batin Simbok, pesakitan Tini tinggal menunggu hari. Cepat atau lambat kembang desa Wiloso itu bakal ditimpa nestapa sebagaimana disasmitakan pulung gantung. Pelan-pelan terkuak juga rasa penasaran Simbok perihal Tini yang tiba-tiba ingin meninggalkan Gunungkidul. Benar! Ternyata niat merantau bukan kemauan Tini. Perempuan beranak satu itu tergadai pada Parman, juragan panti pijat di kawasan Gedongkuning. Ini ulah Jono, suami Tini. Jono harus menebus sepetak ladang yang tergadai. Bila tidak lekas ditebus, ladang akan berpindah tangan. Parman tak keberatan meminjamkan uang 10 juta rupiah, dengan syarat Tini harus bekerja di Griya Pijat Nikmat selama 5 tahun. Apa boleh buat, bagi Tini, ketergadaian tubuh dan dirinya itu mungkin sudah suratan, sebagaimana takdir Jono yang harus rela istrinya jadi sundal.

Sejak itu Tini bukan gadis desa yang lugu dan pemalu lagi. Ia berubah jadi perempuan pemberani. Tak gamang lagi bila berhadapan dengan laki-laki. Tini makin telaten memijat, makin piawai memuaskan hasrat menggebubung para lelaki hidung belang. Pelajaran pertama Tini di panti pijat itu adalah merelakan tubuhnya diperkosa Parman. Perempuan paling ayu di Desa Wiloso itu sama sekali tidak memberikan perlawanan saat tangan kasar Parman menerkam pinggang langsingnya.Untuk apa? Lambat laun tetap saja akan diperkosa. Jadi, dibiarkannya Parman melunaskan dendam masa lalu. Sebelum dipersunting Jono, Parman pernah datang ke Wiloso. Ia hendak memperistri Tini, tapi perempuan itu dalam genggaman Jono.

Berapakah takaran "harga" perempuan yang ditawarkan novel itu? Menimbang kebejatan Wirono, Bendoro, Jono, Parman, atau Andi yang meski berkenan menyelamatkan Tini (tapi menolak komitmen pernikahan), "jangan-jangan" tidak ada takaran harga bagi perempuan. Harga Simbok dan Tini hanya tergantung bagaimana para lelaki memperlakukannya. Seamsal barang rongsokan, tergantung bagaimana pengguna mengukur manfaatnya. Tak ada takaran harga pasti. Agaknya, di sinilah pentingnya realitas keterpurukan Simbok, Tini, dan Murti (anak perempuan Tini dari perkawinannya dengan Jono) yang digambarkan pengarang dengan cara bertutur bersahaja. Nestapa Tini seperti mendaur ulang luka lama Simbok. Bedanya, Tini bukan perempuan yang nrimo. Baginya, ketertindasan itu bukan karena pulung gantung (Tini bahkan tak percaya mitos konyol itu), bukan pula karena suratan takdir, melainkan karena ulah laki-laki. Maka, ia harus melawan, meski akhirnya tetap kalah (dikalahkan?). Puncak kemurkaan Tini terjadi pada sebuah malam jahanam saat ia menikamkan belati ke perut Jono, persis saat suaminya itu sedang berhimpitan dengan Suti, ronggeng dari Karangnongko. Alih-alih menebus gadaian pada Parman, Jono malah berniat menikah lagi dengan Suti. Digondolnya tabungan Tini selama bekerja hampir 5 tahun sebagai pemijat plus. Alhasil, Jono mati bersimbah darah di tangan istrinya sendiri, Tini meringkuk di penjara. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Tak lama kemudian Simbok bunuh diri setelah melihat pulung gantung untuk ke sekian kalinya.

Nama pengarang buku itu sesungguhnya Ngarto Februana, tapi yang tertera di sampulnya hanya Februana (seakan-akan nama perempuan). Seolah-olah kata Ngarto terlalu ndeso dan kolot. Padahal realitas yang hendak digambar Ngarto memang ndeso, melarat, dan kampungan, bukan dunia teenlit, metropop yang banyak digandrungi akhir-akhir ini. Barangkali tema-tema seputar kemiskinan, kemelaratan, dan ketertindasan memang sedang "miring" harganya. Jadi, perlu dikemas sedemikian rupa agar laris di pasaran.... (*)

Pilpres Diboikot, Indonesia Bisa Mengalami Krisis: Kekhawatiran Ratu Atut

http://panwassidoarjo.blogspot.com/21 April, 2009
Aprizal Rahmatullah - detik

Pemilu Wacana boikot pilpres yang dicetuskan kelompok Teuku Umar dinilai berbahaya.

Jika pilpres diboikot, bukan tidak mungkin bangsa ini akan mengarah pada kondisi krisis. "Saya rasa itu sesuatu yang harus dicermati secara hati-hati dan mendalam. Jangan sampai kita membawa bangsa ini ke arah krisis," ujar Ketua Majelis Syuro Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza mahendra usai mengikuti Musyawarah Dewan Partai Bulan Bintang di Hotel Grand Cempaka, Jl Soeprapto, Jakarta, Senin (20/4/2009).
Yusril menjelaskan, sikap memboikot pilpres bukanlah hal yang dewasa. Segala masalah yang tersisa dari pileg justru harus kita sikapi seperti seorang negarawan."Dalam situasi yang sulit seperti ini dan ke depan akan bertambah sulit, fokus pikiran kita adalah bagaimana menyelamatkan bangsa," imbuhnya.

Menurut guru besar Hukum Tata Negara FH UI ini, sangat berbahaya jika pada pilpres nanti hanya calon incumbent yang maju sendiri. Kondisi tersebut tentu menyebabkan tahapan pilpres tidak bisa dilanjutkan.
"Kalau pada 20 Oktober nanti tidak ada presiden yang baru maka negara ini dalam keadaan darurat," pungkasnya.Sebelumnya, kelompok Teuku Umar menyatakan akan memboikot pilpres nanti jika tuntutan agar masalah pileg kemarin tidak ditanggapi.

Kelompok Teuku Umar adalah gabungan tokoh dan ketua parpol yang memprotes penyelenggaraan pemilu karena dinilai gagal memberikan fairness.
Mereka terdiri dari Megawati, Prabowo, Wiranto, Gusdur dan beberapa ketua partai lainnya seperti PPP dan PKS. Para tokoh ini pernah menggelar pertemuan di kediaman Megawati di Jl Teuku Umar, Jakarta Pusat. ( ape / sho )

Panda Nababan & Kejahatandalam Pendzoliman kepada Marissa Haque Fawzi




Kasihan Marissa Haque, dia perempuan lembut hati dan manis budi bahasanya. Dari di DPR RI dulu saya sudah sering mengingatkan janganlah adindaku tercinta itu masuk partai setan bermata merah pakai tanduk pula. Lihatlah copy berita tahun lalu yang sengaja saya simpan agar masyarakat Indonesia dapat membela Marissa Haque yang terdzolimi ini. Panda Nababan atas perintah Megawati Soekarnoputri membayar Wartawan Detiki.com. Nama serta alamat wartawan tersebut tertera pada berita dibawah ini. Berita tsb adalah sbb:Saudariku sayang, kalau pendzoliman terhadap saudari muslim kita Marissa Haque oleh PDIP bagaimana pendapatmu?

Jelas-jelas Marissa Haque menolak dipaksa Panda Nababan dan Megawati Soekarnoputri dari PDI Perjuangan untuk mendukung YANG DIDUGA Koruptor Banten berijazah PALSU dari FAkultas Ekonomi Universitas Borobudur, Kalimalang, Jaktim itu,http://jkt1.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/09/tgl/01/time/142514/idnews/667069/idkanal/10Jumat, 01/09/2006 14:25 WIB Pemecatan Marissa dari PDIP Jangan Terkesan DizalimiMuhammad Nur Hayid - detikinetJakarta - PDIP tidak ingin pemecatan Marissa Haque sebagai anggota PDIP dipublikasikan secara besar-besaran.

PDIP tidak ingin ada kesan Marissa menjadi pahlawan karena dipecat.“Kita mendudukkan sesuai permasalahannya,” kata Wakil Ketua Fraksi PDIP Panda Nababan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (1/9/2006).Panda lantas mengatakan, Marissa dulu pemain sinetron dengan lakon di Komisi X, produsernya PDIP, sutradaranya Ketum PDIP Megawati. Sekarang Marissa menjadi pemain sinetron dengan lakon sebagai wakil gubernur, produsernya PKS dan sutradaranya Presiden PKS Tifatul Sembiring.“Padahal dulu sebelum menjadi anggota, dia sudah tanda tangan di atas materai setia kepada partai. Kalau begini, etis tidak?” cetus Panda.Menurut Panda, seharusnya jika Marissa telah menetapkan diri sebagai calon gubernur dari PKS, Marissa sebaiknya mengundurkan diri tanpa menunggu pemberian sanksi dari DPP.

“Kalau Anda sebagai wartawan detikcom kemudian Anda menulis di media lain, pantas nggak itu? Harusnya dia tahu,” tambah Panda.Saat didesak apakah surat pemecatan Marissa sudah sampai ke fraksi, Panda tidak mau menanggapi. “Persoalannya dipecat atau tidak, tapi didudukkan pada masalah yang sebenarnya,” ungkap Panda.Sementara anggota PDIP Effendi Simbolon dengan nada bergurau menimpali pernyataan Panda bahwa seluruh anggota fraksi dilarang berkomentar tentang Marissa. “Kata Sekjen nggak boleh dikomentari oleh anggota, kenapa Pak Panda berkomentar,” kata Effendi sambil tertawa lebar.Panda pun lantas menyahut pernyataan Effendi. “Untuk saya tidak apa-apa,” ujar Panda sekenanya yang diikuti derai tawa para wartawan. ( san )

Setalah Dikalahkan Marissa Haque Sekarang Taufik Kiemas Kalah Lagi dari Rieke Pitaloka



Dahulu oleh Marissa Haque Sekarang
Rieke Dyah Pitaloka Ungguli Taufik Kiemas

Kompas/Agus Susanto
Rieke Dyah Pitaloka
/
Sabtu, 11 April 2009 13:31 WIB

Laporan wartawan KOMPAS.com Caroline Damanik

JAKARTA, KOMPAS.com — Artis kondang Rieke Dyah Pitaloka yang mencalonkan diri sebagai caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) unggul sementara atas politisi senior dari partai yang sama, Taufik Kiemas, dari daerah pemilihan Jabar II (Bandung dan Bandung Barat).

Padahal, Taufik Kiemas adalah suami dari Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri yang juga duduk sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperppu) PDI-P.

Rieke unggul sementara dengan perolehan 427 suara atas Taufik yang hanya memperoleh 261 suara. Rieke sendiri belum dapat dihubungi hingga berita ini diturunkan. Hanya saja, Rini, asisten Rieke, mengatakan, pihaknya belum memperoleh informasi yang lengkap dari masing-masing tempat pemungutan suara (TPS). "Iya, belum dapat informasi update Mbak," ujar Rini kepada Kompas.com, Sabtu (11/4).

Partai berlambang banteng dengan moncong putih ini duduk di posisi kedua setelah Partai Demokrat dan unggul sedikit di atas Partai Golkar.

Rieke Pitaloka Nilai Lagu Slank & Perkataan Marissa Haque Kini Terbukti






Rabu, 9 April 2008 18:21 WIB Hiburan Dibaca 2138 kali



Jakarta (ANTARA News) - Penangkapan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Pembangunan (FPP), Al Amin Nasution, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan suap pada Rabu dini hari, dinilai artis Rieke Dyah Pitaloka, makin menguatkan dugaan adanya mafia di lingkungan DPR layaknya disebut dalam lirik lagu "Gosip Jalanan" dari Slank.Aktris yang juga anggota partai politik (parpol) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), menilai bahwa kasus penangkapan Al Amin Nasution menunjukkan tak ada yang salah dengan lirik lagu Slank yang kini gencar diperdebatkan itu. "Berarti kan lagu Slank memang terbukti," ujarnya saat di temui di sela-sela Diskusi Budaya, Amandemen UUD 1945 di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (9/4).Pemeran Oneng dalam komedi situasi "Bajaj Bajuri" itu memberi dukungan kepada kelompok Slank, yang dinilainya berani menyuarakan suara hati lewat lagu-lagu semacam itu. "Karena, kalau disindir pun sudah enggak mempan," ujarnya.Mengenai lirik lagu Gosip Jalanan, Rieke mengatakan, "Saya tidak melihat kalau lirik itu menghakimi anggota Dewan. Kalau ada kata `mafia di Senayan`, itu bukan berarti semua anggota Dewan adalah mafia. Ibarat Mafia Italia, bukan berarti orang Italia semuanya mafia bukan?""Masyarakat sudah tahu bahwa yang keluar masuk Senayan kan tidak hanya anggota Dewan, banyak juga kan orang-orang yang masuk ke sana kerjanya cuma jadi makelar politik," katanya.Sementara itu, anggota dewan badan kehormatan DPR, Gayus Lumbun, telah meminta agar polemik antara DPR dan Slank segera diakhiri. Artinya, pihak DPR tidak akan meneruskan persoalan tersebut. "Saya memang sudah dengar kabar itu," ujar Rieke.Syair dalam lagu "Gosip Jalanan" itu antara lain berbunyi "Mau tau gak mafia di senayan, Kerjanya tukang buat peraturan, Bikin UUD ujung-ujungnya duit". Sejumlah anggota DPR menilai lirik lagu "Gosip Jalanan" yang dilantunkan oleh Slank dalam album "Plur" dan dirilis tahun 2004 dinilai telah melecehkan kelembagaan DPR.Badan Kehormatan (BK) DPR pada Rabu menyatakan tidak akan melanjutkan proses pengaduan atas kasus lirik lagu Slank yang dinilai melecehkan DPR itu.Wakil Ketua BK DPR Gayus Lumbuun seusai menemui Ketua DPR Agung Laksono di Gedung DPR, Rabu, menyatakan evaluasi atas lirik lagu berjudul "Gosip Jalanan" itu diserahkan pada masyarakat untuk menyikapinya. (*)
COPYRIGHT © 2008

Lukman Hakim Saifuddin & Angelina Sondakh





KETUA FRAKSI PPP Buntuti Angelina Sondakh


Untuk sementara, Angelina Sondakh yang dijagokan Partai Demokrat unggul di Kabupaten Magelang.


DALAM Pemilu 2009, Kota dan Kabupaten Magelang masuk Dapil Jawa Tengah VI. Daerah lainnya yang masuk dapil ini adalah Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Temanggung.

Pada Pemilu 2004, PDIP berhasil menjadi jawara di dapil ini dengan meraih 465.509 suara atau (23,25 persen). Sementara Partai Kebangkitan Bangsa berada di posisi kedua meraih 407.105 suara (20,33 persen), diikuti Partai Golkar yang meraih 301.989 suara (15,08 persen suara). Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ada di urutan keempat dengan raihan 240.645 suara (12,02 persen).

Partai Amanat Nasional di urutan kelima dengan raihan 175.257 suara (6,85 persen), dan Partai Demokrat berada di urutan keenam dengan raihan 137.227 suara (6,85 persen). Sementara, Partai Keadilan Sejahtera berada di urutan ketujuh dengan raihan 86.163 suara (4,30 persen).


Di dapil ini, sejumlah elite parpol bertarung, di antaranya Ketua Umum Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) Amelia Yani, anggota DPR dari Fraksi PAN Tjatur Sapto Edy, Ketua DPW PKB Jawa Tengah Abdul Kadir Karding, Ketua Fraksi PPP Lukman Hakim Saifuddin, selebritis Angelina Sondakh dari Partai Demokrat, dan pengacara Chudry S dari PKNU. Mereka memperebutkan delapan kursi DPR.

Hingga Sabtu (18/4), mantan putri Indonesia Angelina Sondakh yang jadi caleg nomor urut 1 dari Partai Demokrat meraup 49.794 suara, khusus di Kabupaten Magelang. Perolehan suara Angie, sapaan akrab anggota DPR itu, bakal bertambah di daerah lainnya. Pada Pemilu 2004, Angelina hanya meraup 43.944 suara di dapil ini.

Dari 21 Kecamatan yang ada di Kabupaten Magelang, Angie selalu mendapatkan suara di atas angka 500. Perolehan suara terendah Angie berada Kecamatan Ngablak. Di daerah ini dia hanya meraup 630 suara.

Sementara suara tertinggi dia dapatkan di Kecamatan Mertoyudan dengan 9.483 suara. Sementara, Ketua Fraksi PPP DPR RI Lukman Hakim Saifuddin cuma memperoleh 24.301 suara. Suara tertinggi sebesar 3.274 didapatkan Lukman di Kecamatan Kajoran. Sementara suara terendah yakni 121 suara didapatkan di Kecamatan Ngluwar. Sedangkan Ketua DPW PKB Jawa Tengah Abdul Kadir Karding meraih 24.748 suara.

■ Indra Maliara

Entri Populer