Total Tayangan Halaman

Design by Ferry Muchlis Ariefuzzaman

Design by Ferry Muchlis Ariefuzzaman
Media Team for Atut's Success to be a Governor
Tampilkan postingan dengan label nurul arifin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nurul arifin. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2011

Cheerful Atut with Her Fake Degree: Ferry Ariefuzzaman




Ratu Atut Chosiyah is an artist and politician finally jealous also to friends husband Hikmat Tomet.

Ratu Atut Chosiyah Why jealous? Which also jealous to his friends also, already long known. Vina Panduwinata and Memes are Hikmat Tomet friend from the past, so if the atmosphere be like before meeting up peniuh jokes and cheerful.


But taken by Ratu Atut Chosiyah something inappropriate again, and evoke feelings of jealousy, which in turn created a post in his blog, which is regarded by the public do not deserve submitted by Ratu Atut Chosiyah

This was revealed from a personal Twitter Isabella, who said that he regretted that news written on her blog. “To the friends”, Andika who apologized profusely ats good circulation of news yg krg dr mom blog sy … I really “sorry …” the girl who wrote it is familiarly called Andika Hazrymy

Andika does not even seem to want to open this issue further, when in the post after that, he would rather give up this issue directly to his mother.

“I do not know @ ThinkWL also … Ask my mother wrote, sy afraid wrong way,” he wrote later.

Previously, Andika’s mother, singer Ratu Atut Chosiyahand political figures become warmer because of the news article in his blog that ‘attack’ Vina Panduwinata and Memes because of their closeness to the husband, Hikmat Tomet, in a musical event. Atut, close calls Ratu Atut Chosiyah also had criticized the way they dress that is too open and tempting men, including her husband.

Selasa, 07 Juli 2009

Pencopotan Kajati Banten dalam Kasus Prita


Kompas Cyber Media tertanggal 12 Juni 2009, bahwa Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Banten Dondy K Sudirman dicopot dari jabatannya. Dan layaknya gaya sisa rezim Orde Baru yang sangat represif dan otoritatif – seperti biasa pihak Kejaksaan Agung membantah perhal terkait isu dicopotnya Dondy terkait kasus Prita seorang ibu rumah tangga yang menyebar ketidakpuasan atas layanan RS Omni melalui surat elektronik (email).

Argument dari Kejaksaan Agung dinyatakan bahwa hal mutasi semacam itu merupakan hal umum yang besifat biasa serta sama sekali tidak terkait dengan kasus penanganan Prita Mulyasari oleh kejaksaan. Hhhmmm… Sementara menurut hipotesa saya justru sebaiknya! Kelihatannya insya Allah Kang Pepih setuju dengan dugaan sementara saya bahwa dicopotnya Kejati Banten pak Dondy itu justru karena ‘diduga’ dianggap memiliki ‘andil’ pendzoliman atas Prita Mulyasari oleh kejaksaan sehingga terpaksa harus meringkuk di tahanan!

Ketika dinayatakan oleh Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Jasman Pandjaitan bahwa mutasi tersebut diatas dianggap biasa seperti yang juga sering terjadi pada jaksa-jaksa lain dari institusi hukum ini, justru kecurigaan masyarakat termasuk saya didalamnya semakin meningkat. Bahwa telah terjadi ‘dugaan’ money politics terkait dengan masih sangatnya ‘dugaan’ MAFIA PERADILAN yang melakukan praktek tersebut dari seluruh jajaran institusi hukum terkait dinegeri ini… sampai hari ini! Pak Kejati Dondy kini menjadi staf ahli Jaksa Agung, sementara posisi Kajati Banten yang ditinggalkannya lalu sekarang ini diisi oleh Abdul Wahab Hasibuan yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kajati Sumatera Selatan.

Terkait dengan RS Omni Internasional tersebut sendiri, Jaksa Agung Muda Pengawasan Hamzah Tadja menyatakan, bahwa RS Omni insya Allah kemungkinan besar akan diperiksa terkait kasus Prita itu. Saya pribadi sebagai pengamat hukum cukup aktif dinegeri ini, berharap bahwa kita semua mampu menjadi watch-dog terhadap pemeriksaan Kejakssan Tinggi Banten terkait dengan kasus Prita. Karena tidak tertutup kemungkinan bahwa rencana menuntut RS Omni hanya ‘hangat-hangat tahi ayam’ seperti yang sudah-sudah!
Karena sejelasnya didalam pasal pidana tersebut dinyatakan: “… barang siapa…” Yang artinya dapat menjerat pribadi maupun institusi, siapapun dia tanpa terkecuali – dalam bentuk/wujud/entitas/entity/thing tertentu itu. Karena kebebasan berekspresi bukan bermakna tanpa bingkai hukum. Disukai atau tidak, disetujui atau tidak, Indonesia tetap adalah Negara Hukum yang tercantum dalam Pasal 1 ayat 3 UUD 45. Sehingga walau sampai kini ‘diduga’ masih dipenuhi oleh praktek mafia peradilan, dan para pelaku penjujur keadilan dinegeri ini masih melakukan Espirit de Corps (saling melindungi pelaku kejahatan/delik pidana birokrasi dalam institusi tertentu), namun hukum harus tetap kita junjung tinggi.

Fereat Mundus!

Golkar dalam Nurul Arifin, Ratu Atut


30 November 2007 - 11:45 WIB

Golkar dalam Nurul Arifin, Ratu Atut
Konon orang-orang Gunungkidul melihat pulung gantung beberapa hari sebelum bencana gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang Yogyakarta. Sebentuk sasmita alam dalam wujud bola cahaya sebesar batok kepala berwarna biru kemerahan melayang-layang di angkasa. Sejak lama orang-orang Gunungkidul percaya pulung gantung sebagai pertanda musibah maha-dahsyat bakal tiba. Percaya atau tidak, banyak yang mati gantung diri setelah menyaksikan firasat gaib itu. Sejumlah penelitian perihal kecenderungan bunuh diri di Gunungkidul kerap dihubungkaitkan dengan mitos pulung gantung. Mereka memilih mati lebih dulu, sebelum petaka itu datang, toh nanti juga bakal mati.

Begitulah jalan aman yang ditempuh ayah Tini seperti dikisahkan novel Harga Seorang Wanita (2006) yang saya baca beberapa bulan lalu. Suatu malam, ayah Tini melihat pulung gantung meluncur dari langit dan jatuh di atap rumahnya. Esok pagi orang-orang Desa Wiloso menemukan mayat lelaki itu menggantung di dahan pohon jati, tak jauh dari rumahnya. Tak lama berselang, bala yang mereka takutkan sunggguh-sungguh tiba: Desa Wiloso terancam kelaparan. Panen gagal, wabah busung lapar berjangkit, kemarau berkepanjangan, sawah ladang retak-rengkah, sapi dan kambing kurus kering karena rumput sukar didapat. Orang-orang terpaksa makan tiwul. Tapi, bagi Simbok, itu bukan salah pulung gantung, bukan pula salah alam Gunungkidul yang tak ramah, melainkan sudah pepesthen, kepastian yang tak bisa dielakkan. Miskin, lapar, makan tiwul, dan bunuh diri adalah takdir. Menjanda setelah kematian suami juga takdir.

Di saat para pengarang kita sibuk membungkus cerita dengan aneka kemasan yang mengkilat, kinclong, sedap dipandang mata (tapi abai isi), pengarang buku itu justru mencibirkan segala macam permainan bentuk yang mengasyikkan itu. Ia justru menukik di kedalaman sumur kemelaratan di dusun-dusun Gunungkidul. Tengoklah peruntungan Simbok! Tersebab miskin, suaminya nekat gantung diri (meski dengan dalih pulung gantung). Karena miskin, Simbok jadi gundik pamong desa (Wirono), jadi babu dan pemuas berahi Bendoro. Wajah ayunya jadi bopeng, remuk tak berbentuk. Disiram air panas oleh Raden Sunartijah (istri Bendoro) saat tertangkap basah sedang mengeroki Bendoro.

Namun, pulung gantung tak pernah enyah dari hidup Simbok. Lagi-lagi bola cahaya biru kemerahan itu meluncur dari langit, jatuh di atap usang rumah gedeknya. Kali ini firasat perihal bala yang bakal menimpa Tini, anak perempuan satu-satunya. Simbok gelisah sejak Tini mohon izin untuk bekerja di Yogya. Dalam terawang batin Simbok, pesakitan Tini tinggal menunggu hari. Cepat atau lambat kembang desa Wiloso itu bakal ditimpa nestapa sebagaimana disasmitakan pulung gantung. Pelan-pelan terkuak juga rasa penasaran Simbok perihal Tini yang tiba-tiba ingin meninggalkan Gunungkidul. Benar! Ternyata niat merantau bukan kemauan Tini. Perempuan beranak satu itu tergadai pada Parman, juragan panti pijat di kawasan Gedongkuning. Ini ulah Jono, suami Tini. Jono harus menebus sepetak ladang yang tergadai. Bila tidak lekas ditebus, ladang akan berpindah tangan. Parman tak keberatan meminjamkan uang 10 juta rupiah, dengan syarat Tini harus bekerja di Griya Pijat Nikmat selama 5 tahun. Apa boleh buat, bagi Tini, ketergadaian tubuh dan dirinya itu mungkin sudah suratan, sebagaimana takdir Jono yang harus rela istrinya jadi sundal.

Sejak itu Tini bukan gadis desa yang lugu dan pemalu lagi. Ia berubah jadi perempuan pemberani. Tak gamang lagi bila berhadapan dengan laki-laki. Tini makin telaten memijat, makin piawai memuaskan hasrat menggebubung para lelaki hidung belang. Pelajaran pertama Tini di panti pijat itu adalah merelakan tubuhnya diperkosa Parman. Perempuan paling ayu di Desa Wiloso itu sama sekali tidak memberikan perlawanan saat tangan kasar Parman menerkam pinggang langsingnya.Untuk apa? Lambat laun tetap saja akan diperkosa. Jadi, dibiarkannya Parman melunaskan dendam masa lalu. Sebelum dipersunting Jono, Parman pernah datang ke Wiloso. Ia hendak memperistri Tini, tapi perempuan itu dalam genggaman Jono.

Berapakah takaran "harga" perempuan yang ditawarkan novel itu? Menimbang kebejatan Wirono, Bendoro, Jono, Parman, atau Andi yang meski berkenan menyelamatkan Tini (tapi menolak komitmen pernikahan), "jangan-jangan" tidak ada takaran harga bagi perempuan. Harga Simbok dan Tini hanya tergantung bagaimana para lelaki memperlakukannya. Seamsal barang rongsokan, tergantung bagaimana pengguna mengukur manfaatnya. Tak ada takaran harga pasti. Agaknya, di sinilah pentingnya realitas keterpurukan Simbok, Tini, dan Murti (anak perempuan Tini dari perkawinannya dengan Jono) yang digambarkan pengarang dengan cara bertutur bersahaja. Nestapa Tini seperti mendaur ulang luka lama Simbok. Bedanya, Tini bukan perempuan yang nrimo. Baginya, ketertindasan itu bukan karena pulung gantung (Tini bahkan tak percaya mitos konyol itu), bukan pula karena suratan takdir, melainkan karena ulah laki-laki. Maka, ia harus melawan, meski akhirnya tetap kalah (dikalahkan?). Puncak kemurkaan Tini terjadi pada sebuah malam jahanam saat ia menikamkan belati ke perut Jono, persis saat suaminya itu sedang berhimpitan dengan Suti, ronggeng dari Karangnongko. Alih-alih menebus gadaian pada Parman, Jono malah berniat menikah lagi dengan Suti. Digondolnya tabungan Tini selama bekerja hampir 5 tahun sebagai pemijat plus. Alhasil, Jono mati bersimbah darah di tangan istrinya sendiri, Tini meringkuk di penjara. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Tak lama kemudian Simbok bunuh diri setelah melihat pulung gantung untuk ke sekian kalinya.

Nama pengarang buku itu sesungguhnya Ngarto Februana, tapi yang tertera di sampulnya hanya Februana (seakan-akan nama perempuan). Seolah-olah kata Ngarto terlalu ndeso dan kolot. Padahal realitas yang hendak digambar Ngarto memang ndeso, melarat, dan kampungan, bukan dunia teenlit, metropop yang banyak digandrungi akhir-akhir ini. Barangkali tema-tema seputar kemiskinan, kemelaratan, dan ketertindasan memang sedang "miring" harganya. Jadi, perlu dikemas sedemikian rupa agar laris di pasaran.... (*)

Panda Nababan & Kejahatandalam Pendzoliman kepada Marissa Haque Fawzi




Kasihan Marissa Haque, dia perempuan lembut hati dan manis budi bahasanya. Dari di DPR RI dulu saya sudah sering mengingatkan janganlah adindaku tercinta itu masuk partai setan bermata merah pakai tanduk pula. Lihatlah copy berita tahun lalu yang sengaja saya simpan agar masyarakat Indonesia dapat membela Marissa Haque yang terdzolimi ini. Panda Nababan atas perintah Megawati Soekarnoputri membayar Wartawan Detiki.com. Nama serta alamat wartawan tersebut tertera pada berita dibawah ini. Berita tsb adalah sbb:Saudariku sayang, kalau pendzoliman terhadap saudari muslim kita Marissa Haque oleh PDIP bagaimana pendapatmu?

Jelas-jelas Marissa Haque menolak dipaksa Panda Nababan dan Megawati Soekarnoputri dari PDI Perjuangan untuk mendukung YANG DIDUGA Koruptor Banten berijazah PALSU dari FAkultas Ekonomi Universitas Borobudur, Kalimalang, Jaktim itu,http://jkt1.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/09/tgl/01/time/142514/idnews/667069/idkanal/10Jumat, 01/09/2006 14:25 WIB Pemecatan Marissa dari PDIP Jangan Terkesan DizalimiMuhammad Nur Hayid - detikinetJakarta - PDIP tidak ingin pemecatan Marissa Haque sebagai anggota PDIP dipublikasikan secara besar-besaran.

PDIP tidak ingin ada kesan Marissa menjadi pahlawan karena dipecat.“Kita mendudukkan sesuai permasalahannya,” kata Wakil Ketua Fraksi PDIP Panda Nababan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (1/9/2006).Panda lantas mengatakan, Marissa dulu pemain sinetron dengan lakon di Komisi X, produsernya PDIP, sutradaranya Ketum PDIP Megawati. Sekarang Marissa menjadi pemain sinetron dengan lakon sebagai wakil gubernur, produsernya PKS dan sutradaranya Presiden PKS Tifatul Sembiring.“Padahal dulu sebelum menjadi anggota, dia sudah tanda tangan di atas materai setia kepada partai. Kalau begini, etis tidak?” cetus Panda.Menurut Panda, seharusnya jika Marissa telah menetapkan diri sebagai calon gubernur dari PKS, Marissa sebaiknya mengundurkan diri tanpa menunggu pemberian sanksi dari DPP.

“Kalau Anda sebagai wartawan detikcom kemudian Anda menulis di media lain, pantas nggak itu? Harusnya dia tahu,” tambah Panda.Saat didesak apakah surat pemecatan Marissa sudah sampai ke fraksi, Panda tidak mau menanggapi. “Persoalannya dipecat atau tidak, tapi didudukkan pada masalah yang sebenarnya,” ungkap Panda.Sementara anggota PDIP Effendi Simbolon dengan nada bergurau menimpali pernyataan Panda bahwa seluruh anggota fraksi dilarang berkomentar tentang Marissa. “Kata Sekjen nggak boleh dikomentari oleh anggota, kenapa Pak Panda berkomentar,” kata Effendi sambil tertawa lebar.Panda pun lantas menyahut pernyataan Effendi. “Untuk saya tidak apa-apa,” ujar Panda sekenanya yang diikuti derai tawa para wartawan. ( san )

Entri Populer